Kisah Haru Lulusan Sarjana S1 yang Pilih Jadi Penyapu Jalan Daripada Kerja Kantoran


Hidup memang penuh dengan pilihan. Meski terkadang terliaht tak masuk akal bagi orang lain yang tak merasakannya secara langsung. Agaknya, keputusan besar inilah yang coba diselami oleh sosok wanita bernama Siti Mariyah. Petugas Penanganan Pra Sarana dan Sarana Umum (PPSU) yang sehari-harinya menyapu jalanan yang berdebu di Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan.
Yang mengejutkan, Siti sejatinya seorang terpelajar yang lulus sebagai seorang sarjana dari sebuah universitas. Seolah tak canggung dan malu, ia terlihat enjoy menikmati profesinya sebagai tukang sapu jalanan. Sebuah pekerjaan yang mungkin hanya dilakukan oleh mereka yang berpendidikan rendah. Dilansir dari jakarta.tribunnews.com, ada sebuah kisah haru di balik itu semua. Mengapa Siti yang lulusan sarjana, rela menukar jerih payahnya menuntut ilmu selama empat tahun hanya dengan bekerja sebagai petugas kebersihan.

Lulusan sarjana yang menjalani dua bidang pendidikan sekaligus

Menempuh kuliah pada jurusan Pertanian, Siti berhasil lulus pada tahun 1990. Tak puas degan gelar sarjana S1 yang diraihnya, ia kembali ke bangku pendidikan untuk meraih gelar tambaha. Alhasil, ia pun meluangkan waktunya di saar yang bersamaan untuk menempuh pendidikan D3 jurusan sekretaris di universitas lain. Selepas itu semua, ia mencoba peruntungan di dunia kerja.
Selain di S1 saya sekolah juga ambil D3 jurusan sekretaris di tempat lain” ujarnya yang dilansir dari jakarta.tribunnews.com.

Sempat menjadi seorang sekretaris

Ilustrasi sekretaris [sumber gambar]
Setelah menggenggam ijazah sebagai sarjana lulusan S1 Pertanian, Siti pun mulai mencari pekerjaan seperti kebanyakan orang lainnya. Beruntung, ia akhirnya berhasil diterima di sebuah perusahaan dan menempati posisi sebagai sekretaris. Berkarir selama 12 tahun, sejatinya merupakan sebuah pengalaman lebih bagi Siti untuk bisa berkarir dengan jenjang yang lebih baik di masa depan. Tapi ternyata, ia memilih jalan yang lain.

Pilih resign karena suatu hal yang berat

Ilustrasi mengundurkan diri [sumber gambar]
Selama 12 tahun berkarir sebagai sekretaris umum, Siti banyak berkutat di banyak hal. Terutama pada bidang administrasi seperti mengurus bagian parkir hingga uang makan karyawan. Sayang, karena sakit yang terus menerus dideritanya, membuat Siti akhirnya memilih keluar dari pekerjaan. Sang suami yang dulunya seorang broker, mengikuti jejak sang istri.
Suami saya dulu broker tapi keluar juga. Dia sekarang kerja di cafe,” paparnya yang dilansir dari jakarta.tribunnews.com

Tuntutan ekonomi yang membuat Siti harus realistis

Ilustrasi petugas PPSU [sumber gambar]
Kebutuhan hidup dan tanggung jawab yang semakin bertambah, membuat Siti harus berpikir realistis dengan kondisi yang ada. Ia pun akhirnya mencoba menerima pekerjaan yang bisa ia raih dengan cepat. Tanpa pikir panjang, wanita 48 tahun ini mencoba dan akhirnya diterima sebagai petugas Penanganan Pra Sarana dan Sarana Umum (PPSU). Siti pun dengan ikhlas berusaha untuk bekerja sebaik mungkin demi masa depannya.
Ada pembukaan PPSU di tahun 2014 saya gabung. Sudah 4 tahun saya bekerja menjadi petugas PPSU. Tiap hari berangkat subuh sampai selesai nanti jam 1. Bersihin dari bulog kemudian mendekati patung Pancoran,” katanya yang dilansir dari jakarta.tribunnews.com.

Tetap bersyukur menjadi kuci sukses Siti taklukan keadaan

Siti merasa bersyukur dengan pekerjannya [sumber gambar]
Gelar sarjana yang pernah ia raih, tak sedikitpun memengaruhi langkah Siti meski saat ini ia hanya bekerja sebagai seorang petugas kebersihan di jalan raya. Ia bahkan mengakui bahwa dirinya sangat mensyukuri apa yang ia dapatkan selama ini. Yang terpenting, bisa digunakan untuk membiayai hidup keluarganya. Bahkan, ia juga berencana mengikuti perlombaan paduan suara di Korea.
Pokoknya bersyukur aja. Pekerjaan apapun saya lakukan yang penting halal. Saya kumpulkan uang buat anak saya. Anak saya yang pertama mau berangkat ke Korea karena ikut kompetisi paduan suara. Saya mesti siapkan dana 8 juta kalau jadi. Insya allah bisa,” tandasnya yang dilansir dari jakarta.tribunnews.com.
Pekerjaan apapun, asal dilakukan dengan ikhlas dan penuh rasa syukur, pasti dapat menentramkan hati dan mendatangkan nikmat yang tidak pernah ada sebelumnya. Senada dengan kisah Siti di atas. Meski tergolong profesi yang kerap dianggap sebelah mata, toh ia ternyata bisa menjalani hari-harinya dengan optimis. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Siswi Ini Bunuh Diri Setelah Disuruh Jadi Pelacur Sama Gurunya, Karena Telat Bayar Iuran

Nekat Perk0sa Janda Cantik, Remaja Ini Burungnya Diremas Hingga Dia Tewas

Tak Kuat Layani Istri Minta 'Jatah' 10 Kali Sehari, Suami Lapor Polisi